|Bebas Berekspresi, Asal Jangan Bikin Nenek Moyang Geleng-geleng|
Bayangkan kamu sedang scroll linimasa X, nyemil keripik, tiba-tiba muncul meme dua tokoh besar, Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo, ngapain?
Bukan lagi cuma jabat tangan atau ngopi bareng, tapi ciuman! Ya Tuhan, kalau nenek moyang kita lihat ini, mungkin mereka geleng-geleng kepala sambil ngelus jenggot, “Anak cucu jaman sekarang kenapa sih?”
Meme yang konon dibikin pake AI oleh mahasiswi ITB ini bikin geger seantero negeri.
Ada yang ketawa ngakak, bilang ini satire jenius soal “matahari kembar” yang ngegambarin Prabowo-Jokowi kayak duo tak terpisahkan.
Tapi, ada juga yang meradang, bilang ini kelewatan, nggak sopan, dan bikin malu budaya Indonesia.
Polisi langsung gercep, mahasiswi berinisial SSS itu ditangkap di Jatinangor pada 6 Mei 2025, dengan tuduhan melanggar UU ITE soal konten asusila dan pemalsuan data digital.
Lha, kok langsung ditangkap?
Kebebasan Berekspresi: Hak atau Provokasi?
Di Indonesia, kebebasan berekspresi itu ibarat punya hak buat nyanyi karaoke sepuasnya, tapi kalau lagunya bikin tetangga ngamuk, ya siap-siap dikomplain.
UUD 1945 di Pasal 28D ayat 1 bilang jelas, kita punya hak buat ngomong apa aja, termasuk bikin meme yang bikin orang ketawa atau nangis.
Tapi, di Pasal 28J ayat 2, ada catatan: kebebasan itu ada batasnya, bro.
Jangan sampai nyinggung kesusilaan, ketertiban umum, atau bikin orang lain merasa diinjek-injek harga dirinya.
Meme Prabowo-Jokowi ini, menurut sebagian orang, masuk kategori satire politik.
Aktivis macam Muhammad Isnur dari YLBHI bilang ini ekspresi kreatif yang dilindungi Pasal 19 ICCPR, yang udah kita ratifikasi.
Maksudnya, bikin meme buat nyindir dinamika politik itu sah-sah aja di alam demokrasi.
Apalagi soal “matahari kembar” yang lagi ramai dibahas, kayak kode bahwa Prabowo masih “dipegangin” Jokowi.
Tapi, masalahnya, caranya bikin meme ini nggak cuma nyanyi off-key, tapi langsung bikin orang-orang di warung kopi ngerasa risih.
Norma Budaya: Batas Tak Tertulis yang Bikin Ribet
Di Indonesia, budaya itu ibarat bumbu dapur: nggak ada resep pasti, tapi semua orang tahu kalau kebanyakan micin, masakan bisa kacau.
Norma kesusilaan kita, apalagi soal menghormati figur publik, itu sensitif banget.
Presiden, apalagi dua presiden, itu bukan cuma orang, tapi simbol.
Bikin meme mereka ciuman, meski maksudnya satire, buat sebagian orang kayak ngejek nenek moyang yang dulu ngajarin “hormati yang lebih tua”.
Apalagi ini bukan Barat, bro, di mana meme serupa mungkin cuma dianggap “hah, gitu doang?”.
Di sini, budaya Jawa yang unggah-ungguh, budaya Sunda yang lemes, atau budaya lain yang penuh tata cara, bikin meme kayak gini langsung jadi bahan omongan.
Polisi bilang meme ini melanggar Pasal 406 KUHP baru soal penghinaan, plus Pasal 45 ayat 1 UU ITE soal konten asusila.
Tapi, aktivis dan pengamat macam Rocky Gerung bilang, “Lho, ini kan abu-abu. Meme ini satire atau penghinaan? Konteksnya apa?”
Bener juga sih, soalnya niat si pembuat meme—mahasiswi ITB yang mungkin cuma iseng atau pengen viral—belum tentu jahat.
Tapi, di Indonesia, niat baik nggak selalu cukup kalau hasilnya bikin tetangga julid.
Kriminalisasi atau Pembinaan?
Yang bikin panas adalah polisi langsung main tangkap. Mahasiswi ini, yang umurnya masih belasan, kini jadi sorotan.
Orang tuanya udah minta maaf, ITB bilang bakal dampingi, dan Istana, lewat Hasan Nasbi, malah bilang Prabowo nggak laporin kasus ini.
Malah, kata Istana, lebih baik dibina ketimbang dihukum, soalnya ini cuma anak muda yang “terlalu bersemangat”.
Nah, di sini kita lihat kontradiksi: polisi gercep pake UU ITE, tapi Istana bilang “santai aja, dong”.
Jadi, ini sebenarnya siapa yang ngerasa tersinggung?
UU ITE: Pedang Bermata Dua
UU ITE ini, jujur, kayak pisau bermata dua.
Di satu sisi, dia niatnya melindungi masyarakat dari konten yang bikin gaduh.
Di sisi lain, dia sering jadi alat buat bikin orang takut ngomong.
Amnesty International Indonesia bilang, sejak 2019, ratusan orang kena jerat UU ITE gara-gara bikin konten yang dianggap “nggak bener”.
Kalau mahasiswi ini dipenjara cuma gara-gara meme, apa nggak bikin anak-anak muda lain takut bikin konten kreatif?
Chilling effect, kata orang bule.
Jalan Tengah: Bebas, Tapi Jangan Bikin Nenek Moyang Nangis
Kebebasan berekspresi itu ibarat Wi-Fi: semua orang pengen, tapi kalau sinyalnya buruk, ya ngeselin.
Demokrasi ngasih kita hak buat bikin meme, nulis kritik, atau bikin video TikTok soal politik.
Tapi, di Indonesia, kita nggak cuma hidup sama konstitusi, tapi juga sama budaya yang punya aturan tak tertulis.
Bikin meme boleh, tapi kalau bikin orang-orang di kampung ngerasa “ini too much”, ya siap-siap dikira nggak punya adab.
Solusinya?
Bukan cuma soal hukum, tapi juga soal ngobrol. Mahasiswi ini, misalnya, lebih cocok dibina ketimbang dijerat UU ITE.
Kasih dia workshop soal etika digital, ajak diskusi soal batas-batas satire, atau suruh bikin meme yang lebih “santun” tapi tetep nendang.
Pemerintah juga harus buru-buru revisi UU ITE, soalnya pasal-pasal karet ini bikin orang takut berekspresi.
Kalau nggak, demokrasi kita cuma jadi slogan, tapi prakteknya kayak zaman Orba: diam atau masuk bui.
Jadi, bebas berekspresi itu penting, tapi jangan sampai bikin nenek moyang geleng-geleng kepala.
Kita bisa nyanyi karaoke sepuasnya, asal lagunya nggak bikin tetangga ngegas.
Kalau bisa bikin meme yang nyindir politik tapi tetep sopan, itu baru seni demokrasi yang sesungguhnya.
Yuk, kita belajar bareng, biar budaya dan kebebasan jalan bareng tanpa harus ribut di warung kopi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar