Full-Width Version (true/false)

19/05/2025

Potongan Aplikasi Bisa 70 Persen, Ojol Cuma Dapat Capek dan Debu Jalanan

19 Mei 0
Pengemudi ojol dan aplikasi

|Potongan Aplikasi Bisa 70 Persen, Ojol Cuma Dapat Capek dan Debu Jalanan|

Hidup sebagai driver ojek online itu keras. Tapi ternyata, yang lebih keras dari aspal jalanan adalah potongan dari aplikator yang bisa bikin pengemudi nyaris nggak kebagian apa-apa dari orderannya sendiri.

Kabar terbaru: tanggal 20 Mei 2025, para driver ojol se-Indonesia bakal menggelar demo besar-besaran. Bukan demo soal cinta, ini demo soal keadilan ekonomi digital.

Tuntutan Demo Ojol 20 Mei 2025: Bukan Cuma Soal Duit, Tapi Soal Martabat

Apa sih yang dituntut para driver dalam Aksi Akbar 205 ini?

  • Potongan aplikator maksimal 10%, bukan 20% apalagi 70% seperti yang terjadi sekarang.
  • Tolak sistem argo murah dan promosi yang bikin driver nombok.
  • Hapus suspend sepihak, yang sering dilakukan hanya karena sistem error atau ulah pelanggan iseng.
  • Status hukum yang jelas: Mitra, pekerja, atau pengusaha?
  • Fasilitas kerja layak: dari jaket, helm, hingga subsidi pulsa.

"Mitra" Tapi Gak Dikasih Hak Layaknya Mitra

Para pengemudi disebut mitra, tapi nyatanya diperlakukan seperti buruh digital yang nggak punya perlindungan hukum. Nggak ada jaminan sosial, nggak ada asuransi, dan rawan suspend.

Menurut Sony Sulaksono dari ITB, posisi hukum pengemudi ojol ini abu-abu. Dan selama status itu belum jelas, ya bakal terus jadi korban ketimpangan digital.

Data yang Bikin Gigit Jari

Menurut Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI), dari satu order GoFood seharga Rp18.000, driver bisa cuma dapat Rp5.200. Sisanya? Diambil aplikator. Itu belum termasuk pajak dan potongan lainnya.

Rata-rata penghasilan harian driver ada di angka Rp50.000 - Rp100.000, itu pun harus dipotong bensin, servis motor, dan pulsa. Dan ingat, orderan sekarang makin sepi, karena promosi dari aplikator lebih sering menguntungkan pelanggan ketimbang driver.

Aplikasi Dapat Cuan, Ojol Dapat Tulang Punggung Pegal

Kalau kamu pernah ngerasa nyesek bayar ongkir GoFood mahal, coba bayangin gimana perasaan driver yang cuma dapat Rp5.000-an dari sana. Kadang orderan dari ujung ke ujung, tapi yang masuk saldo nggak cukup buat beli es teh.

Pemerintah sendiri sudah mengeluarkan Permenhub No. 12 Tahun 2019 tentang tarif dan batas potongan, tapi implementasinya? Ya gitu deh, masih kayak formalitas doang.

Pemerintah dan Aplikator, Jangan Tutup Kuping

Sudah saatnya pemerintah dan aplikator duduk bareng. Bukan cuma soal tarif, tapi soal keadilan ekonomi digital. Karena kalau cuma pelanggan yang dimanja dan driver dibiarkan merana, maka model ekonomi ini hanya menguntungkan yang di atas, bukan yang berkeringat di jalanan.

Besok Jalanan Mungkin Sepi, Tapi Suaranya Harus Terdengar

Tanggal 20 Mei besok, jangan kaget kalau kamu susah dapat ojol. Jangan nyinyir, coba bayangin jadi mereka: narik order sambil ngelawan panas, macet, dan ketidakadilan sistem.

Ini bukan sekadar mogok. Ini perlawanan. Ini perjuangan. Dan ini semestinya jadi momentum bagi kita semua untuk mulai mempertanyakan: siapa yang sebenarnya paling untung dari ekonomi digital ini?

Keyword Terkait:
Demo Ojol 20 Mei, Tuntutan Driver Ojek Online, Potongan Aplikator Gojek Grab, Argo Murah Ojol, Suspensi Sepihak, Hukum Mitra Ojol

15/05/2025

Bebas Berekspresi, Asal Jangan Bikin Nenek Moyang Geleng-geleng

15 Mei 0
Meme kontroversial Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo ciuman, memicu perdebatan tentang kebebasan berekspresi

|Bebas Berekspresi, Asal Jangan Bikin Nenek Moyang Geleng-geleng|

Bayangkan kamu sedang scroll linimasa X, nyemil keripik, tiba-tiba muncul meme dua tokoh besar, Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo, ngapain?

Bukan lagi cuma jabat tangan atau ngopi bareng, tapi ciuman! Ya Tuhan, kalau nenek moyang kita lihat ini, mungkin mereka geleng-geleng kepala sambil ngelus jenggot, “Anak cucu jaman sekarang kenapa sih?”

Meme yang konon dibikin pake AI oleh mahasiswi ITB ini bikin geger seantero negeri.

Ada yang ketawa ngakak, bilang ini satire jenius soal “matahari kembar” yang ngegambarin Prabowo-Jokowi kayak duo tak terpisahkan.

Tapi, ada juga yang meradang, bilang ini kelewatan, nggak sopan, dan bikin malu budaya Indonesia.

Polisi langsung gercep, mahasiswi berinisial SSS itu ditangkap di Jatinangor pada 6 Mei 2025, dengan tuduhan melanggar UU ITE soal konten asusila dan pemalsuan data digital.

Lha, kok langsung ditangkap?

Kebebasan Berekspresi: Hak atau Provokasi?

Di Indonesia, kebebasan berekspresi itu ibarat punya hak buat nyanyi karaoke sepuasnya, tapi kalau lagunya bikin tetangga ngamuk, ya siap-siap dikomplain.

UUD 1945 di Pasal 28D ayat 1 bilang jelas, kita punya hak buat ngomong apa aja, termasuk bikin meme yang bikin orang ketawa atau nangis.

Tapi, di Pasal 28J ayat 2, ada catatan: kebebasan itu ada batasnya, bro.

Jangan sampai nyinggung kesusilaan, ketertiban umum, atau bikin orang lain merasa diinjek-injek harga dirinya.

Meme Prabowo-Jokowi ini, menurut sebagian orang, masuk kategori satire politik.

Aktivis macam Muhammad Isnur dari YLBHI bilang ini ekspresi kreatif yang dilindungi Pasal 19 ICCPR, yang udah kita ratifikasi.

Maksudnya, bikin meme buat nyindir dinamika politik itu sah-sah aja di alam demokrasi.

Apalagi soal “matahari kembar” yang lagi ramai dibahas, kayak kode bahwa Prabowo masih “dipegangin” Jokowi.

Tapi, masalahnya, caranya bikin meme ini nggak cuma nyanyi off-key, tapi langsung bikin orang-orang di warung kopi ngerasa risih.

Norma Budaya: Batas Tak Tertulis yang Bikin Ribet

Di Indonesia, budaya itu ibarat bumbu dapur: nggak ada resep pasti, tapi semua orang tahu kalau kebanyakan micin, masakan bisa kacau.

Norma kesusilaan kita, apalagi soal menghormati figur publik, itu sensitif banget.

Presiden, apalagi dua presiden, itu bukan cuma orang, tapi simbol.

Bikin meme mereka ciuman, meski maksudnya satire, buat sebagian orang kayak ngejek nenek moyang yang dulu ngajarin “hormati yang lebih tua”.

Apalagi ini bukan Barat, bro, di mana meme serupa mungkin cuma dianggap “hah, gitu doang?”.

Di sini, budaya Jawa yang unggah-ungguh, budaya Sunda yang lemes, atau budaya lain yang penuh tata cara, bikin meme kayak gini langsung jadi bahan omongan.

Polisi bilang meme ini melanggar Pasal 406 KUHP baru soal penghinaan, plus Pasal 45 ayat 1 UU ITE soal konten asusila.

Tapi, aktivis dan pengamat macam Rocky Gerung bilang, “Lho, ini kan abu-abu. Meme ini satire atau penghinaan? Konteksnya apa?”

Bener juga sih, soalnya niat si pembuat meme—mahasiswi ITB yang mungkin cuma iseng atau pengen viral—belum tentu jahat.

Tapi, di Indonesia, niat baik nggak selalu cukup kalau hasilnya bikin tetangga julid.

Kriminalisasi atau Pembinaan?

Yang bikin panas adalah polisi langsung main tangkap. Mahasiswi ini, yang umurnya masih belasan, kini jadi sorotan.

Orang tuanya udah minta maaf, ITB bilang bakal dampingi, dan Istana, lewat Hasan Nasbi, malah bilang Prabowo nggak laporin kasus ini.

Malah, kata Istana, lebih baik dibina ketimbang dihukum, soalnya ini cuma anak muda yang “terlalu bersemangat”.

Nah, di sini kita lihat kontradiksi: polisi gercep pake UU ITE, tapi Istana bilang “santai aja, dong”.

Jadi, ini sebenarnya siapa yang ngerasa tersinggung?

UU ITE: Pedang Bermata Dua

UU ITE ini, jujur, kayak pisau bermata dua.

Di satu sisi, dia niatnya melindungi masyarakat dari konten yang bikin gaduh.

Di sisi lain, dia sering jadi alat buat bikin orang takut ngomong.

Amnesty International Indonesia bilang, sejak 2019, ratusan orang kena jerat UU ITE gara-gara bikin konten yang dianggap “nggak bener”.

Kalau mahasiswi ini dipenjara cuma gara-gara meme, apa nggak bikin anak-anak muda lain takut bikin konten kreatif?

Chilling effect, kata orang bule.

Jalan Tengah: Bebas, Tapi Jangan Bikin Nenek Moyang Nangis

Kebebasan berekspresi itu ibarat Wi-Fi: semua orang pengen, tapi kalau sinyalnya buruk, ya ngeselin.

Demokrasi ngasih kita hak buat bikin meme, nulis kritik, atau bikin video TikTok soal politik.

Tapi, di Indonesia, kita nggak cuma hidup sama konstitusi, tapi juga sama budaya yang punya aturan tak tertulis.

Bikin meme boleh, tapi kalau bikin orang-orang di kampung ngerasa “ini too much”, ya siap-siap dikira nggak punya adab.

Solusinya?

Bukan cuma soal hukum, tapi juga soal ngobrol. Mahasiswi ini, misalnya, lebih cocok dibina ketimbang dijerat UU ITE.

Kasih dia workshop soal etika digital, ajak diskusi soal batas-batas satire, atau suruh bikin meme yang lebih “santun” tapi tetep nendang.

Pemerintah juga harus buru-buru revisi UU ITE, soalnya pasal-pasal karet ini bikin orang takut berekspresi.

Kalau nggak, demokrasi kita cuma jadi slogan, tapi prakteknya kayak zaman Orba: diam atau masuk bui.

Jadi, bebas berekspresi itu penting, tapi jangan sampai bikin nenek moyang geleng-geleng kepala.

Kita bisa nyanyi karaoke sepuasnya, asal lagunya nggak bikin tetangga ngegas.

Kalau bisa bikin meme yang nyindir politik tapi tetep sopan, itu baru seni demokrasi yang sesungguhnya.

Yuk, kita belajar bareng, biar budaya dan kebebasan jalan bareng tanpa harus ribut di warung kopi.

Jokowi dan Ijazahnya: Misteri yang Tak Pernah Berhenti

15 Mei 0
Ilustrasi Kontroversi Ijazah Jokowi: Gabungan foto Jokowi, ijazah diburamkan, dan elemen misteri

|Jokowi dan Ijazahnya: Misteri yang Tak Pernah Berhenti|

Bayangkan kalau Dan Brown, penulis The Da Vinci Code, hidup di Indonesia tahun 2025.

Bisa dipastikan dia nggak akan nulis tentang Yesus atau cawan suci.

Dia bakal nulis novel berjudul The Jokowi Diploma Code, sebuah thriller konspirasi tentang selembar kertas dari Fakultas Kehutanan UGM yang bikin heboh seantero negeri.

Plotnya? Seorang mantan presiden, sebuah ijazah, dan sekelompok detektif amatir di X yang yakin mereka lebih jago dari FBI.

Misteri abad ini, katanya.

Di awal 2025, kasus “ijazah palsu” Jokowi kembali muncul bak zombie yang nggak bisa mati.

Kali ini, Rismon Hasiholan Sianipar, seorang alumnus UGM yang mengaku ahli forensik digital, jadi pemicunya.

Dia bilang font Times New Roman di skripsi Jokowi nggak mungkin ada di tahun 1980-an.

Lalu ada Roy Suryo, mantan Menpora yang kini lebih dikenal sebagai komentator segala, plus Dokter Tifa, yang entah kenapa selalu ada di setiap drama politik.

Mereka beramai-ramai menyerbu UGM, minta klarifikasi, seolah-olah ijazah Jokowi adalah artefak kuno yang menyimpan rahasia alam semesta.

Sementara itu, UGM, dengan wajah datar khas institusi akademik, mengeluarkan pernyataan: “Jokowi lulus tahun 1985, nomor mahasiswa 80/34416/KT/1681, skripsi asli, foto wisuda ada, temen seangkatan juga bersaksi.”

Dokumen lengkap, arsip rapi, bahkan font Times New Roman ternyata sudah dipakai di percetakan Sanur waktu itu.

Tapi, seperti kata pepatah modern: “Kalau fakta nggak sesuai dengan X, buang aja faktanya.”

Publik di X lebih percaya analisis forensik ala kadarnya daripada arsip resmi universitas.

Ini mirip banget sama teori konspirasi global, kayak orang-orang yang yakin bumi datar karena lihat video di YouTube, meskipun NASA bilang sebaliknya.

Coba kita bandingkan.

Di Amerika, ada konspirasi bahwa pendaratan di bulan itu palsu, direkayasa di studio Hollywood.

Bukti?

Bayangan di foto nggak konsisten, katanya.

Di Indonesia, kita punya versi lokal: ijazah Jokowi palsu, karena font Times New Roman nggak sesuai era.

Bedanya, kalau NASA cuma menghela napas面对 konspirasi bulan, Jokowi langsung mainkan kartu hukum.

Lima orang—Rismon, Roy Suryo, Dokter Tifa, Eggi Sudjana, dan Kurnia Tri Royani—dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas tuduhan pencemaran nama baik.

Plot twist: salah satu pengacara penuduh malah jadi tersangka pemalsuan dokumen di kasus lain.

Kalau ini film, pasti udah dapat rating 8/10 di IMDb karena drama yang nggak habis-habis.

Tapi serius, kenapa sih kasus ini nggak pernah selesai?

Kayak sinetron Indonesia yang entah kenapa selalu punya musim baru.

Jawabannya ada di X, platform tempat kebenaran diukur dari jumlah retweet, bukan fakta.

Di X, sebuah unggahan dengan analisis font ala detektif amatir bisa dapat ribuan like dalam hitungan jam.

Sementara klarifikasi UGM, yang panjang dan penuh data, cuma dikomentari, “Bohong, pasti disuap!”

Ini mirip teori konspirasi global lain, seperti Area 51 atau Illuminati.

Orang lebih suka percaya ada rahasia besar di balik sesuatu yang biasa, karena, yah, hidup memang lebih seru kalau ada drama.

Jokowi sendiri sebenarnya cukup santai.

Dia pernah bilang, “Mau lihat ijazah?

Ya ke pengadilan aja.”

Sikap ini kayak vokalis band indie yang cuma mau manggung kalau proyeknya “berjiwa”.

Tapi sikap ini juga bikin orang curiga.

“Kalau bener, kenapa nggak ditunjukin aja?” kata netizen, sambil lupa bahwa Jokowi sudah nunjukin ijazahnya ke media.

Ini kayak teori konspirasi vaksin: meski ada ribuan penelitian ilmiah, selalu ada yang bilang, “Big Pharma bohong!”

Kasus ini juga bikin kita bertanya: kenapa sih kita begitu terobsesi dengan ijazah?

Di Indonesia, ijazah itu kayak medali emas Olimpiade.

Tanpa itu, kamu bukan apa-apa, meskipun sudah memimpin negara dua periode.

Ini beda sama teori konspirasi di Barat, yang biasanya tentang alien atau pemerintahan bayangan.

Di sini, kita ribut soal selembar kertas, karena kertas itu simbol status, keabsahan, dan “kehebatan”.

Padahal, kalau dipikir-pikir, apa sih bedanya lulusan Kehutanan UGM dengan pengalaman memimpin Jakarta dan Indonesia?

Tapi ya gitu, di negeri ini, gelar S1 lebih sakral daripada rekam jejak.

Jadi, apa pelajaran dari misteri ijazah Jokowi ini?

Pertama, X adalah tempat yang buruk untuk cari kebenaran, tapi bagus banget untuk cari hiburan.

Kedua, teori konspirasi, entah soal ijazah atau alien, selalu lebih menarik daripada fakta membosankan.

Dan ketiga, kalau kamu mantan presiden, lebih baik simpan ijazahmu di brankas, karena suatu hari pasti ada yang bilang itu palsu.

Kalau Dan Brown baca ini, dia mungkin sudah mulai nulis sekuel: The Jokowi Diploma Code: Rise of the Font Detectives.

Sementara kita?

Kita cuma bisa ketawa, sambil scroll X, menunggu konspirasi berikutnya.

07/05/2025

5 Mitos Politik yang Dipercaya Banget Sama Anak Muda

07 Mei 0
5 Mitos Politik yang Dipercaya Banget Sama Anak Muda

|5 Mitos Politik yang Dipercaya Banget Sama Anak Muda|

Saya masih ingat ketika teman saya bilang, “Ngapain sih bahas politik? Toh kita nggak bisa ngubah apa-apa.” Waktu itu saya hanya mengangguk, padahal dalam hati saya merasa janggal. Betulkah seperti itu? Saya coba mencari tahu lebih jauh, ternyata pemikiran semacam itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Bahkan, sebagian besar ternyata hanya mitos yang sudah lama dianggap benar di kepala anak muda—termasuk juga saya sendiri saat muda dulu.

Karena itulah, saya mau ngebahas soal beberapa mitos tentang politik yang sering banget kita dengar dan kita yakini benar, khususnya dari sudut pandang generasi muda. Bukan buat menggurui, tapi siapa tahu bisa jadi bahan renungan bareng.

1. “Politik itu kotor, jadi mendingan dijauhi aja”

Ini mitos paling populer, dan juga paling berbahaya. Menganggap politik kotor itu sah-sah saja, apalagi kalau melihat banyaknya kasus korupsi, manipulasi, atau drama di panggung kekuasaan. Tapi masalahnya, kalau semua anak muda menjauh, siapa yang bakal membersihkan?

Mundur dari politik hanya akan bikin yang “main kotor” tetap punya ruang tanpa pengawasan. Padahal, kalau makin banyak orang jujur yang terlibat, peluang untuk memperbaiki sistem juga lebih besar. Jadi, alih-alih menjauh, mungkin yang perlu kita lakukan adalah ikut hadir—meski pelan-pelan.

2. “Suara satu orang nggak akan ngaruh apa-apa”

Saya dulu sempat percaya pernyataan itu. Tapi setelah saya coba mengamati Pemilu, ternyata banyak kemenangan kandidat diperoleh dengan selisih suara yang sangat kecil, saya pun mulai berpikir ulang. Dalam demokrasi, satu suara memang hanya satu angka. Tapi ketika satu suara itu datang dari jutaan orang yang berpikiran sama, tentu akan mengubah banyak hal.

Yang lebih penting, saat kita memilih untuk tidak bersuara, kita secara tidak langsung menyerahkan keputusan ke tangan orang lain yang bisa jadi berbeda pemikiran dengan kita. Lalu, ketika kebijakan yang dilahirkan oleh pemenang pemilu itu tidak berpihak pada kita, apakah kita bisa menyalahkan orang lain?

3. “Politik itu buat orang pintar, bukan buat kita yang awam”

Ini juga mitos yang lumayan menyesatkan. Politik bukan soal seberapa banyak kamu tahu teori ideologi atau hafal pasal undang-undang. Politik, pada dasarnya, adalah soal keberpihakan dan keberanian bersuara.

Kita semua bisa mulai dari hal kecil: nonton debat publik, baca berita dari lebih dari satu sumber, atau sekadar berdiskusi soal kebijakan pemerintah di tongkrongan. Dari situ, perlahan kita bisa membentuk sikap, dan itu sudah merupakan bagian dari politik.

4. “Yang penting kerja dan cari duit, urusan negara biar elit yang urus”

Saya paham kenapa mitos ini banyak dipercaya. Hidup makin mahal, beban kerja makin berat, dan rasanya kita nggak punya waktu mikirin soal negara. Tapi justru karena kita kerja banting tulang, kita punya hak untuk menuntut kebijakan yang berpihak.

Coba bayangkan: kalau kita diam saat kebijakan pajak makin mencekik, atau biaya pendidikan makin mahal, siapa yang akan memperjuangkan hak kita? Politik tidak berdiri di luar kehidupan sehari-hari. Ia justru hadir di dalamnya—dari tagihan listrik sampai harga beras.

5. “Kalau ngomongin politik bisa dicap radikal atau bikin ribut”

Ini mitos yang bikin banyak orang memilih diam. Padahal, menyuarakan pendapat itu bukan kejahatan. Tentu, kita tetap harus menjaga etika dan data yang valid. Tapi selama kita berdiskusi dengan niat baik dan argumen yang sehat, tidak ada yang salah dengan berbeda pendapat.

Justru, demokrasi tumbuh lewat perbedaan. Kalau semua orang berpikir sama dan diam, maka yang vokal akan punya kuasa mutlak.

Penutup: Politik Bukan Milik Segelintir Orang

Kita tidak harus jadi anggota partai, aktivis jalanan, atau pakar kebijakan untuk bisa peduli. Cukup dengan memilih untuk tidak apatis, itu sudah langkah awal. Politik bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Ia juga tentang kita—yang sehari-hari hidup dengan konsekuensi dari kebijakan mereka.

Yuk, kita belajar bareng. Karena kadang, yang dibutuhkan cuma satu: keberanian untuk bertanya dan tidak lagi diam.

Kenapa Politik Itu Relevan: Catatan Ringan dari Sudut Pandang Anak Muda

07 Mei 0
Ilustrasi anak muda berdiskusi tentang demokrasi dan politik Indonesia dengan kotak suara dan bendera Merah Putih di latar belakang

|Kenapa Politik Itu Relevan: Catatan Ringan dari Sudut Pandang Anak Muda|

Saya dulu bukan tipe orang yang suka bahas politik. Bukan karena nggak peduli, tapi lebih karena bingung harus mulai dari mana. Banyak istilah rumit, banyak tokoh yang sama sekali tidak saya kenal. Dan jujur saja, berita politik di TV juga sering membuat saya tambah malas — nadanya tinggi, isinya debat yang entah kenapa terasa jauh dari realita saya.

Tapi beberapa tahun belakangan, saya mulai merasa bahwa menutup mata terhadap politik justru membuat keadaan tidak berubah. Malah lebih buruk. Harga naik, ruang berekspresi dibatasi, kebijakan kampus berubah mendadak, dan anehnya... tak satu pun dari itu saya pahami prosesnya.

Politik Itu Dekat, Meski Tak Terlihat

Saya mulai menyadari bahwa keputusan politik itu tidak hanya ada di DPR atau kantor kementerian. Ia menyusup ke banyak aspek sehari-hari. Harga beras di warung? Kebijakan subsidi pendidikan? Bahkan jam malam yang tiba-tiba diberlakukan di lingkungan tempat saya tinggal? Semuanya produk kebijakan — dan semua kebijakan adalah hasil dari proses politik.

Artinya, kita memang bisa bilang "saya nggak peduli", tapi keputusan politik tetap akan memengaruhi kita. Entah kita ikut atau tidak.

Suara Anak Muda Itu Besar, Tapi Sering Tak Dianggap

Pemilu 2024 yang lalu kelihatan bahwa suara milenial dan Gen Z mendominasi lebih dari separuh total pemilih. Tapi anehnya, banyak yang justru tidak menggunakan hak suaranya. Sebagian bilang "semuanya sama aja", sebagian lagi bilang "gak ngerti siapa yang layak".

Saya tidak sedang menyalahkan siapapun, karena dulu saya pun begitu. Tapi setelah sedikit-sedikit membaca dan ikut diskusi, saya paham satu hal: sistem politik tidak akan berubah kalau kita terus diam. Kalau yang punya kepentingan tetap bersuara, dan yang dirugikan tetap diam, ya sistemnya akan terus seperti itu.

Tidak Harus Jadi Aktivis untuk Peduli Politik

Mungkin banyak yang merasa, kalau kita peduli politik, harus jadi aktivis atau ikut organisasi besar. Padahal tidak harus seperti itu.

Saya sendiri bukan orang yang aktif turun ke jalan. Tapi saya mulai membaca. Lalu kadang menulis. Kadang juga hanya berdiskusi dengan teman, atau sesekali menyebarkan informasi yang saya rasa penting ke orang lain. Dan itu, saya kira, juga bentuk partisipasi.

Kita bisa memilih bentuk keterlibatan yang sesuai dengan kenyamanan kita. Yang penting: tidak pasif sepenuhnya.

Telisik Politik: Sebuah Ruang untuk Belajar, Bukan Menggurui

Blog ini bukan tempat orang sok pintar tapi ruang untuk banyak belajar. Saya percaya, kalau kita belajar bareng, kita bisa paham lebih cepat. Jadi, kita tidak mudah dibohongi karena kita paham.

Di sini saya akan menulis hal-hal yang mungkin juga kamu pikirkan, tapi belum sempat kamu bahas. Tentang kenapa sistem politik bisa terasa membingungkan. Tentang siapa yang memegang kendali. Tentang mengapa suara kita sebenarnya penting.

Saya tidak menawarkan jawaban pasti. Tapi saya percaya, bertanya adalah langkah pertama yang tidak bisa diremehkan.

📌 Baca juga:
5 Mitos Politik Anak Muda yang Perlu Kamu Bongkar

📬 Punya unek-unek soal politik?
Kirim ke: saifoelhakim@gmail.com